
Sebuah
artikel sampul majalah TIME edisi Mei lalu mengangkat analisis berjudul
“The Me Me Me Generation - Why They’ll Save Us All”. Dalam artikel
sepanjang enam halaman garapan sosialis Joel Stein itu dituangkan banyak
fakta yang menjelaskan mengapa orang muda yang lahir antara tahun 1980
hingga 2000, bisa jadi masalah sekaligus “dinamika baru” bagi
perkembangan dunia. Golongan generasi ini disebut sebagai millenial.
Dijelaskan, karakter generasi millenial yang paling nampak adalah
malas, narsistis dan penuh gengsi, dan cenderung tidak mandiri. Setelah
baca rampung artikel ini, saya berpikir bahwa Indonesia punya semua
karakter generasi millenial. Stein menggarisbawahi kesimpulan bahwa
dengan segala macam sifat kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri,
abai terhadap informasi-informasi signifikan dan terlalu banyak
mengumbar hal-hal yang tidak relevan di internet, generasi millenial
akan jadi penanda baru dalam sejarah peradaban. “Millenial tidak mencoba
mengambil alih perbaikan dan pengembangan kehidupan, mereka bertumbuh
sendiri tanpa perkembangan itu,” tulis Stein.
Saya mudah sekali
melihat diri saya sendiri di cermin sebagai bagian dari generasi
millenial dengan beberapa karakter yang masuk akal. Saya punya Twitter,
pernah aktif di Facebook, menggemari fitur obrolan dan berbagi foto,
sering mengeluh, malas untuk hal-hal yang sebenarnya baik, dan sangat
berat untuk tidak mengikuti tren pakaian ataupun pemilihan gadget. Saya
bahkan (di beberapa kasus) tidak tahu mengapa sebetulnya saya memiliki
barang ini dan barang itu. Saya menghabiskan banyak uang untuk hal-hal
yang tidak saya perlukan.
Akan tetapi saya tidak sepenuhnya
menyalahkan diri sendiri. Pendapat yang membanding-bandingkan “generasi
millenial” dengan generasi Oprah Winfrey, Jennifer Lopez hingga Agnes
Monica di Indonesia menurut saya hanya sebuah tolok ukur untuk melihat
sejauh mana peradaban (dengan revolusi arus informasinya) membentuk
kecenderungan sosial kaum muda.
Generasi “aku aku aku” Indonesia terbentuk
karena persaingan global yang dipersenjatai kemajuan teknologi
informasi. Jumlah kelas tengah Indonesia yang kini menyentuh angka 135
juta jiwa membentuk pencitraan baru bagi kaum muda di lingkungan sosial.
Dr. Neila Ramdhani, dosen Psikologi UGM
yang terlibat dalam riset pengaruh internet terhadap anak dan remaja, berpendapat bahwa kecenderungan remaja saat ini mengikuti perkembangan
teknologi, bukan didasari pada pengertian mereka terhadap dinamika
informasi apalagi kemajuan teknologi itu sendiri. Saat seorang remaja
SMA membeli iPhone, itu adalah karena dorongan eksternal, dan bukan
pemahamannya sendiri terhadap perangkat yang digunakan. “Gadget di zaman
sekarang bisa menjadi alat tawar yang kuat untuk mendapatkan posisi
sosial,” jelasnya.
Seseorang dari kalangan bawah bahkan bisa
merasa menjadi bagian dari kelas tengah bahkan atas ketika mereka
memakai semua alat tawar yang dimaksud: pakaian, dandanan, kendaraan,
ponsel, dsb. Walaupun itu berpura-pura. Bentuk pencitraan yang tidak
terkontrol penuh membawa pada publisitas yang tidak seimbang.
Generasi “aku aku aku” dinilai sebagai pemalas dan sangat bergantung,
cenderung tidak mandiri apalagi independen. Gemar memperlihatkan
kemewahan yang bukan hasil kerja keras mereka alias pemberian orang tua.
Mendambakan hasil tapi kurang menghargai proses. Mereka senang
orang-orang mengetahui apa yang mereka lakukan dari bangun tidur sampai
tidur lagi karena menganggap Twitter memberi kesempatan untuk itu.
Sekelompok mahasiswa yang baru lulus mencari pekerjaan di sana sini atau
mengikuti Job Fair dan sebagian dari mereka tidak tahu apa yang
benar-benar mereka inginkan untuk perbaikan hidup. Pengalaman harian
mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu menonton reality show komedi
percintaan di televisi atau membaca buku-buku hiburan menjadi
pengalihan yang kuat dari pilihan hidup yang seharusnya sudah bisa
ditentukan sejak usia 20.
Generasi sekarang abai terhadap
hal-hal yang di luar minat mereka, atau di luar tren yang mereka ikuti.
Generasi ini selalu mendambakan karir cemerlang di perusahaan besar
setelah wisuda tetapi mereka kebingungan saat ditanya “apa yang bisa kau
lakukan untuk membuat perubahan?” Saat mendapatkan karir baik, mereka
tetap memoles diri karena mempercayai bahwa jenis pekerjaan masa kini
masih terpisah-pisah dalam kasta.
Pe-de vs. narsisitas
Sekitar tahun 1970-an para ilmuwan dunia mempelajari pengarauh
pengembangan kepercayaan diri bagi anak, yang di Amerika kemudian
dikenal sebagai self-esteem, tingkat keempat dari lima tingkatan di
teori Piramida Maslow. Kepercayaan diri atau yang di Indonesia sering
disebut pe-de benar-benar jadi barang penting untuk diperkenalkan
sebagai karakter moral seorang anak sejak lahir. Hanya saja dalam
perkembangannya, kepercayaan diri ini menjelma menjadi tak terkendali.
Generasi millenial sering kali mengaku kepercayaan diri mereka
terbentuk utuh, akan tetapi sulit membedakan pede dengan narsistis.
Percaya diri bukanlah memfoto diri sendiri di depan cermin kamar mandi
mal ataupun memasang foto di layar ponsel. Percaya diri bukanlah tampil
gaya penuh warna di forum publik yang dihadiri oleh orang-orang penting
dan terdidik. Kecenderungan keliru mengartikan narsistis sebagai percaya
diri akan terlihat lucu, karena orang-orang dari generasi sebelum kita
ini akan menemukan sebuah fenomena “transisi teori” yang mengejutkan.
Pemaknaan terhadap “kepercayaan diri” justru hilang saat anak-anak muda
dengan penampilan necis diminta berpidato di forum publik, kemudian
terbata-bata.
Perhatikan saja. Banyak anak muda, dari remaja
hingga usia 30, terlihat ingin tampil di publik secara visual. Mereka
ingin jadi pusat perhatian akan tetapi enggan terlibat dalam publisitas
nyata. Suka diperhatikan tapi tidak menunjukkan kepedulian. Narsisitas
membawa sekelompok orang ceria dan warna-warni bergabung dengan kelompok
lain yang punya kecenderungan dandanan sama, atau selera obrolan yang
sama. Uniknya, tingkat kesetiaan dalam kelompok narsistis ternyata besar
dan relatif tak bisa disaingi, sebagaimana diuraikan dalam buku Akar
Kekerasan - Analisis Sosio-Psikologis atas Watak Manusia tulisan Erich
Fromm. Lingkungan sosial jalanan memberi cap “gaul” tapi tidak mengakui
keterlibatan anak-anak muda ini dalam fungsi lingkungan yang sebenarnya.
Beruntungnya, kecenderungan kelompok muda Millenial untuk berkelompok
dan bergaul lebih luas memberi harapan bagi penyelesaian masalah-masalah
sosial lainnya. Walaupun tingkat abai masyarakat meningkat, kelompok
generasi “aku” tetap mempercayai bahwa mereka bisa melakukan sesuatu
saat mereka hidup serius setelah usia 30. Ungkapan “bagaimana nantinya
saja” kiranya akan menyelamatkan pembangunan bangsa yang nantinya akan
dilakoni oleh muda-mudi yang saat ini masih bergaul ke sana ke mari.
Bukti bahwa saat ini banyak instansi pemerintah memanfaatkan aktivitas
kaum muda guna menuntaskan program-program berkelanjutan menjadi gejala
yang menjanjikan. Tetap ada banyak ruang bagi muda-mudi yang mau
berpikir relevan dan memiliki visi bagi pembangunan.
Generasi
“aku aku aku” ala Millenial lahir setelah generasi yang di Amerika
disebut sebagai Generasi X. Pendiri Facebook Mark Zuckerburg dan
megabintang Lady Gaga jadi penanda penting bagi Millenial dunia,
mengakhiri kejayaan generasi sebelumnya ala Warren Buffet dan Jennifer
Lopez. Akan tetapi di Indonesia, tampaknya perubahan kejayaan
antar-generasi ini belum akan terjadi dalam waktu yang dekat. Generasi X
Indonesia setingkat aktris senior Jajang C. Noer, menteri perdagangan
Gita Wirjawan atau sejarawan J.J. Rizal masih akan dipertahankan guna
menyelamatkan peradaban bangsa. Jujur saja itu masuk akal, karena
generasi Millenial kita masih belum muncul ke permukaan.
Sumber
http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/27/generasi-aku-aku-aku-indonesia-572538.html
0 komentar:
Posting Komentar