Senin, 19 April 2010

U Use It Or U Lose It

-->
Berita kriminal yang kerap menghiasi berbagai media, terlebih semakin banyak stasiun TV menyajikan tayangan khusus peristiwa-peristiwa kriminal semakin mengakrabkan kita dengan kejadian-kejadian kejam dan mengerikan. Bahkan tidak jarang, membuat hidup kita semakin tidak nyaman karena bayang-bayang kejahatan terasa begitu dekat. Ada satu pertanyaan yang cukup mendasar, kenapa ada manusia-manusia yang tega berbuat kejahatan atau melakukan perbuatan kejam yang merugikan dirinya bahkan merugikan orang lain? Percayakah Anda jika pertanyaan itu dijawab hanya dengan satu jawaban singkat, “Ada yang bermasalah dengan salah satu fungsi otak manusia tersebut”.
Apa hubungannya antara perilaku kejam seseorang dengan perangkat otak? Tentu saja ada. Pada tahun 1980 di Sacramento, California, seorang laki-laki yang berulang-ulang melakukan perilaku yang kejam datang ke rumah sakit menyampaikan keluhannya. Ternyata dokter yang menangani menemukan adanya tumor di otak yang menekan sistem limbic sehingga aktif terus. Setelah dilakukan operasi dengan mengangkat tumor tersebut, pola perilakunya yang kejam hilang sama sekali. Percobaan yang sama dilakukan (Restak, 1984) dengan menggunakan elektroda yang dihidupkan pada seekor tikus dan sapi, lalu terlihat reaksi munculnya perilaku yang agresif dan liar dari kedua hewan tersebut. Elektroda tersebut ditempatkan untuk merangsang peran sistem limbic. Sebaliknya, bila rangsangan elektroda pada sistem limbic ini dihilangkan, maka perilaku kedua hewan tersebut normal kembali.

Jangan Bersedih Karena Bencana-Bencana Itu

 
Seorang sejarawan dan sastrawan Mesir, Ahmad bin Yusuf, menyebutkan dalam sebuah bukunya yang sangat mengagumkan Al-Mukafa'ah wa Husnul 'Uqba, "Manusia telah mengetahui bahwa pemecahan masalah - yakni lenyapnya kesedihan dan kepedihan - dengan sesuatu yang sebaliknya adalah sesuatu yang pasti adanya. Ia tahu bahwa lenyapnya malam menandakan munculnya siang. Namun kelemahan tabiat manusia selalu saja mengiringi jiwa pada saat terjadinya bencana. Jika tidak diobati maka akan bertambahlah penyakitnya, dan akan semakin besar cobaannya. Masalahnya adalah bahwa jiwa harus diberi kekuatan baru pada saat berada dalam kesulitan. Karena bila tidak disuntik dengan kekuatan baru, jiwa akan dipenuhi keputusasaan, yang selanjutnya akan menghancurkan dirinya sendiri."
Merenungkan bab ini --bab tentang orang yang mendapat cobaan lalu bersabar, dan buah dari sabar itu adalah akibat yang baik-- adalah hal yang dapat menguatkan jiwa dan mendorongnya untuk terus bersabar dan terus menjaga sikap kepada Rabb berupa berbaik sangka akan terpenuhinya kebaikan setelah ujian berlalu.
Di akhir buku itu ia mengatakan, "Bazerjamhar mengatakan, 'Kesulitan yang datang sebelum kemudahan itu laksana lapar yang datang sebelum adanya makanan. Sehingga letak kesulitan itu akan tepat beriiringan dengan datangnya kemudahan setelah itu, dan makanan akan terasa lezat dimakan ketika bersama rasa lapar.'"

Hari Anda adalah Hari ini

-->
Jika datang pagi maka janganlah menunggu tibanya sore. Pada hari ini Anda hidup, bukan di hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan kejelekannya, dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang.
Hari ini dengan mataharinya yang menyinari Anda, adalah hari Anda. Umur Anda hanya sehari. Karena itu anggaplah rentang kehidupan Anda adalah hari ini saja, seakan-akan Anda dilahirkan pada hari ini dan akan mati hari ini juga. Saat itulah Anda hidup, jangan tersangkut dengan gumpalan masa lalu dengan segala keresahan dan kesusahannya, dan jangan pula terikat dengan ketidakpastian-ketidakpastian di masa yang penuh dengan hal-hal yang menakutkan serta gelombang yang sangat mengerikan. Hanya untuk hari sajalah seharusnya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras.
Pada hari ini Anda harus mempersembahkan kualitas shalat yang khusyu', bacaan Al-Quran yang sarat tadabbur, dzikir yang sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian pada jiwa dan raga, serta bersikap sosial terhadap sesama.
Hanya untuk hari ini saja, saat mana Anda hidup. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar membagi setiap jamnya. Anggaplah setiap menitnya sebagai hitungan tahun, dan setiap detiknya sebagai hitungan bulan, saat-saat dimana Anda bisa menanam kebaikan dan mempersembahkan sesuatu yang indah. Beristighfarlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada- Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan nanti, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan. Terimalah rezeki yang Anda dapatkan hari ini dengan penuh keridhaan: Istri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan posisi Anda.

Dimensi Lain Dari Materi

Peringatan Tulisan berikut -- yang mulai dimuat hari ini -- mengungkap rahasia paling tersembunyi dari kehidupan Anda. Anda harus membacanya dengan penuh perhatian karena tulisan ini membahas masalah yang dapat mengubah cara pandang anda terhadap dunia materi. 
-->

Manusia dibiasakan sejak awal kehidupannya untuk memandang dunia tempat ia hidup memiliki wujud materi yang absolut. Sehingga ia tumbuh dewasa di bawah pengaruh pengkondisian ini dan menjalani seluruh hidupnya dengan cara pandang ini. Namun penemuan ilmu pengetahuan modern memperlihatkan kenyataan penting yang sama sekali berbeda dengan anggapan umum.


Semua informasi yang kita punyai tentang dunia luar, sampai kepada kita melalui panca indera kita. Dunia yang kita pahami terdiri atas apa dilihat mata, didengar telinga, dicium hidung, dirasakan lidah dan disentuh oleh tangan kita.


Manusia bergantung hanya pada kelima indera tersebut sejak lahir. Itulah mengapa ia mengetahui 'dunia luar' hanya sebatas apa yang diberikan melalui indera ini. 


Penelitian ilmiah tentang indera kita telah mengungkapkan kenyataan yang sangat berbeda tentang apa yang kita sebut dengan 'dunia luar'. Dan kenyataan ini telah membongkar rahasia sangat penting tentang hakikat materi, yang menyusun dunia luar tersebut.