Sabtu, 13 Juli 2013

Indonesia...berbenahlah!

Kadang, saya merasa hidup di negara ini seperti hidup di dunia ketiga. Dunia antah berantah yang tidak didengar oleh alam semesta. Seringkali, saya merasa bahwa kita, terlalu rendah hati dan rendah diri sehingga merasa begitu kecil bila dibandingkan dengan negara lain. Sehingga ketika ada satu kejadian kecil yang membuat nama negara ini disebut, tiba-tiba kita bereaksi dengan kebanggan dan nasionalisme yang begitu berlebihan.

Kamis, 11 Juli 2013

Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji?

Gelar haji Konon hanya dipakai oleh bangsa melayu. Tidak ada dalil yang mengharuskan jika setelah menunaikan ibadah haji harus diberi gelar haji/hajjah. Bahkan sahabat Rasulullah pun tidak ada yang dipanggil haji.

Sejarah pemberian gelar haji dimulai pada tahun 654H, pada saat kalangan tertentu di kota Makkah bertikai dan pertikaian ini menimbulkan kekacauan dan fitnah yang mengganggu keamanan kota Makkah.

Karena kondisi yang tidak kondusif tersebut, hubungan kota Makkah dengan dunia luar terputus, ditambah kekacauan yang terjadi, maka pada tahun itu ibadah haji tidak bisa dilaksanakan sama sekalai, bahkan oleh penduduk setempat juga tidak.

Setahun kemudian setelah keadaan mulai membaik, ibadah haji dapat dilaksanakan. Tapi bagi mereka yang berasal dari luar kota Makkah selain mempersiapkan mental, mereka juga membawa senjata lengkap untuk perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan perengkapan ini para jemaah haji ibaratkan mau berangkat ke medan perang.

Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang. Dengan kemeriahan sambutan dengan tambur dan seruling, mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari situ, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.

Gelar Haji di Indonesia
Di zaman penjajahan belanda, pemerintahan kolonial sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapat ijin dari pihak pemerintah belanda. Mereka sangat khawatir dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu menimbulkan pemberontakan.

Masalahnya, banyak tokoh yang kembali ke tanah air sepulang naik Haji membawa perubahan. Contohnya adalah Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Pemerintahan kolonial pun mengkhususkan P. Onrust dan P. Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.

Jadi demikianlah, gelar Haji pertama kali dibuat oleh pemerintahan kolonial dengan penambahan gelar huruf “H” yang berarti orang tersebut telah naik haji ke mekah. Seperti disinggung sebelumnya, banyak tokoh yang membawa perubahan sepulang berhaji, maka pemakaian gelar H akan memudahkan pemerintah kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

Uniknya, pemakaian gelar tersebut sekarang malah jadi kebanggaan. Tak lengkap rasanya bila pulang berhaji tak dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. Ritual ibadah yang berubah makna menjadi prestise? Ironis

Rabu, 10 Juli 2013

Syayma, Calon Dokter Penghafal Al-Qur'an

Syayma Karimah, alumnus SMA IT Al Kahfi, Cigombong Bogor, Jawa Barat, merasa bangga dan bersyukur, karena bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi di Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, melalui jalur berbeda dengan mahasiswa lain.

Putri pasangan Muhammad Supariyono dan Miftahatul Bariyah yang lahir di Bogor, 5 juni 1994 lalu ini, diterima di Fakultas Kedokteran, UNS, tahun 2012 lalu, berkat kelebihannya menghafal Alquran.

Mahasiswi semester dua ini merasa beruntung dan dipermudah masuk UNS karena dirinya mempunyai kelebihan hafidz Alquran 30 juz, dibandingkan siswi lain saat mendaftar kuliah. Syayma menceritakan, dirinya mendapatkan undangan untuk mengikuti ujian masuk UNS, yang salah satu syaratnya adalah hafal Alquran.

"Saat mendaftar saya melampirkan syarat-syarat, seperti surat keterangan hafidz 30 juz, sertifikat juara II lomba pidato bahasa Arab, ajang remaja berprestasi tingkat Jawa barat dan DKI Jakarta, dan juara V Olimpiada Sains Nasional Cabang Kimia tingkat Kabupaten Bogor," ujar Syayma kepada merdeka.com.

Selain syarat tersebut, menurut Syayma, syarat utama untuk masuk Fakultas Kedokteran adalah nilai rapor. Saat seleksi terakhir, lanjut Syayma, nilai rapornya sama dengan peserta seleksi lain. Namun karena dirinya menyertakan surat keterangan hafidz 30 juz Alquran, UNS lebih memilihnya menjadi calon mahasiswa.

"Bangga dan bersyukur rasanya, karena saya yang lebih diprioritaskan untuk diterima, tanpa harus membayar uang pangkal, meskipun nilai rapor kami sama," katanya.

Sementara itu, Rektor UNS Surakarta Ravik Karsidi membenarkan kampusnya memiliki jalur khusus penerimaan bagi calon mahasiswa yang punya keahlian menghafal Alquran, sejak tahun 2011. Salah satu syaratnya harus hafal minimal 20 juz Alquran. Sejak tahun 2012, sudah sudah ada delapan mahasiswa yang diterima di UNS.

"Ini bentuk apresiasi kepada penghafal Alquran. Ada 8 siswa yang kami terima, 2011 ada tiga siswa, 2012 ada lima. Mereka masing-masing di Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik," ujarnya.

Menurut Ravik kedelapan mahasiswa tersebut juga dilibatkan dalam kegiatan keagamaan yang dipusatkan di masjid kampus. Kegiatan tersebut bukan hanya menghafal Alquran, tetapi juga bagaimana mengamalkannya. Sementara bagi mereka yang kurang mampu, UNS akan mengikutsertakannya dalam program Bidik Misi.

Senin, 08 Juli 2013

Seorang Ilmuwan Masuk Islam Karena Anjing

Pada kali ini, sebuah kisah seorang ilmuwan akhirnya menjadi mu'alaf setelah mengetahui secara persis karakter binatang berupa anjing.
Seorang ilmuwan besar yang mendalami bidang bakteri berkunjung ke Mesir untuk menyekolahkan anaknya dan dia sendiri memperoleh pekerjaan dalam bidangnya tersebut. Pada suatu hari dia membaca buku hadist yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Tiba² dia tidak percaya ketika membaca hadist Nabi SAW.

Rasulullah SAW bersabda,
"Jika seekor anjing menjilat perkakas rumah salah seorang di antara kalian, maka cucilah alat (tempat) itu tujuh kali, satu kali diantara yang tujuh itu dicampur dengan tanah...!!!"

Sejenak dia berdiam menatap hadist itu. Dalam dirinya mulai timbul pertanyaan², bahwa perintah mencuci tujuh kali itu memang harus dilakukan, dan merupakan kewajiban, namun mengapa Nabi masih menyuruh membasuh tempat itu satu kalinya dengan tanah...??? Tidakkah dengan memakai air saja sudah cukup...???

Pertanyaan itu terus mengganggunya. Kemudian dia mengambil sebuah perkakas rumah dan membiarkannya dijilati anjing. Lalu mencucinya dengan air tujuh kali. Setelahnya ia teliti dengan menggunakan mikroskop, dan yang terlihat adalah berjuta² bakteri masih melekat di tempat itu. Berarti mencuci dengan air tidaklah cukup untuk menghilangkan bakteri atau kuman² penyakit anjing yang melekat ditempat tersebut.

Sekarang dia mencoba sekali lagi, mencuci tempat itu dengan debu. Dan setelah diteliti, ternyata, kuman² telah hilang seluruhnya.

Pertanyaan yang timbul dibenaknya sekarang adalah siapa yang memberitahukan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW...???

Padahal penemuan rahasia bakteri baru diketemukan oleh Pasteur (1822-1895).

Bukankah jauh sekali jarak antara Muhammad dengan Pasteur...???

Berarti penemuan Pasteur hanyalah mengulang penemuan lama, dimana Muhammad telah mengetahui bahwa bakteri atau kuman penyakit itu ada pada anjing dan dapat dihilangkan hanya dengan mempergunakan debu dan dibasuh dengan air enam kali.

Siapa yang memberitahukan hakikat ilmiah ini kepada Nabi Muhammad SAW...???

Subhanallah, Allah SWT lah yang memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad SAW, segala hal yang bermanfaat bagi umatnya.

Dan akhirnya keyakinan ilmuwan tersebut memperkuatnya untuk masuk Islam bersama puterinya yang kala itu ikut bersamanya ke Kairo.

Misteri Nyali

Apa yang membuat penjelajah mau menghadapi bahaya dan terus melanjutkan?

Orang yang memimpin ekspedisi masyhur sepanjang jalur Grand Canyon sama sekali tidak mirip sosok petualang dari masa 1870-an. Tinggi John Wesley Powell hanya 168 sentimeter,  dengan rambut kaku seperti bulu sikat, dan jenggot awut-awutan­—dengan noda tembakau—yang panjangnya sampai ke dada.

Lengan kanannya buntung, kena peluru  minié saat Pertempuran Shiloh. Tetapi, setelah perang, ia pergi menyurvei Pegunungan Rocky, hidup di antara suku-suku Indian yang berseteru, mengarungi Sungai Green dan Colorado, dan menjelajahi labirin yang belum terpetakan dari salah satu sistem ngarai terbesar di dunia. Orang asing mungkin ber­tanya-tanya apa yang membuat profesor uni­versitas berlengan satu ini memulai se­jumlah eksplorasi paling berisiko pada masanya.

Sebenarnya, hal yang sama bisa saja di­tanya­kan kepada 32 orang yang bergabung dengan Powell pada 13 Januari 1888, di Cosmos Club Washington D. C. Seperti diri­nya, sebagian besar dari mereka telah melakukan perjalanan berbahaya versi mereka sendiri ke pedalaman tak dikenal. Di antara mereka terdapat veteran Perang Sipil dan operasi militer Indian, perwira angkatan laut, pendaki gunung, ahli meteorologi, insinyur, naturalis, kartografer, ahli etnologi, dan wartawan yang pernah me­nyeberangi Siberia. Mereka adalah orang-orang yang pernah terdampar di Arktika, ber­hasil selamat melalui cuaca buruk di laut, lolos dari serangan binatang dan avalans, meng­alami kelaparan ekstrem, dan bertahan me­lawan kesepian yang menghancurkan jiwa, dalam perjalanan-perjalanan mengarungi lanskap terpencil.

Mereka berkumpul malam itu untuk men­dirikan National Geographic Society dan se­pakat bahwa misi organisasi baru mereka—peningkatan dan penyebaran pengetahuan geografis—akan membutuhkan eksplorasi yang sulit ke wilayah tak dikenal.

Segala macam eksplorasi berakar pada gagasan bersedia mengambil risiko. Risiko men­dasari perjalanan apa pun ke tempat yang tak diketahui. Baik itu perjalanan seorang kapten ke laut yang belum dipetakan, penelitian ilmuwan tentang penyakit berbahaya, atau investasi pengusaha dalam bisnis baru. Tetapi, apa sebenarnya yang mendorong Christopher Columbus memulai pelayaran melintasi Atlantik, atau Edward Jenner menguji teori­nya untuk vaksin cacar dini pada anak, atau Henry Ford bertaruh bahwa mobil bisa meng­gantikan kuda? Sejumlah motivasi untuk mengambil risiko sangatlah jelas: imbalan finansial, kemasyhuran, kepentingan politik, menyelamatkan nyawa. Banyak orang rela membuka diri terhadap berbagai tingkat risiko dalam mengejar tujuan itu.

Namun bersamaan dengan meningkatnya bahaya, jumlah orang yang bersedia untuk melanjutkan pun menyusut, sampai satu-satunya yang bertahan adalah pe­nempuh risiko ekstrem, mereka yang bersedia membahayakan reputasi, keberuntungan, dan kehidupan mereka. Ini adalah misteri risiko: Apa yang membuat beberapa manusia bersedia membahayakan diri begitu banyak dan terus melakukannya, bahkan ketika menghadapi konsekuensi yang mengerikan?

Seratus dua puluh lima tahun setelah malam di Cosmos Club, para ilmuwan mulai membuka kotak hitam neurologis. Isinya: mekanisme untuk mengambil risiko dan menggabungkan faktor biologis yang dapat mendorong seseorang men­jadi penjelajah. Penelitian berpusat pada neurotransmiter, bahan kimia yang mengontrol komunikasi di otak. Salah satu neurotransmiter yang penting untuk rumus pengambilan ri­siko adalah dopamin. Zat ini membantu me­ngendalikan keterampilan motorik, juga men­dorong kita mencari dan mempelajari hal baru serta memproses emosi seperti kecemasan dan ketakutan. Orang yang otaknya tak meng­hasilkan cukup dopamin seperti penderita Parkinson, sering mengalami kesulitan dengan sikap yang apatis dan kurangnya motivasi.

Produksi dopamin yang kuat adalah salah satu kunci untuk memahami pengambilan risiko, ungkap Larry Zweifel, ahli neurobiologi dari University of Washington. “Saat Anda berbicara tentang seseorang yang mengambil risiko untuk mencapai sesuatu—mendaki gunung, memulai sebuah perusahaan, mencalonkan diri untuk jabatan tertentu, menjadi Navy SEAL—itu didorong oleh motivasi, dan motivasi didorong oleh sistem dopamin. Inilah yang memaksa manusia untuk bergerak maju.”

Dopamin membantu mendatangkan rasa puas saat kita menyelesaikan berbagai tugas: semakin berisiko tugas itu, semakin besar dosis dopaminnya. Sebagian alasan mengapa tak semua orang mendaki gunung atau men­calonkan diri untuk jabatan tertentu, adalah bahwa tak semua orang punya kadar dopamin yang sama. Molekul pada permukaan sel-sel saraf yang disebut autoreseptor, yang me­ngontrol berapa banyak dopamin yang kita hasil­kan dan gunakan, pada dasarnya me­ngendalikan keinginan untuk mengambil risiko.

Dalam penelitian di Universitas Vander­bilt, peserta menjalani pemindaian yang me­mungkinkan ilmuwan mengamati autoreseptor di bagian sirkuit otak yang berhubungan dengan penghargaan, kecanduan, dan gerakan. Orang dengan sedikit autoreseptor—dopamin yang mengalir lebih bebas—lebih mungkin terlibat dalam perilaku pencarian hal baru, misalnya eksplorasi. “Bayangkan dopamin seperti bensin,” kata neuropsikolog David Zald, peneliti utama studi tersebut. “Gabungkan hal itu bersama otak yang dilengkapi dengan kemampuan lebih rendah untuk mengerem dari biasanya, dan Anda akan mendapatkan orang-orang yang melewati batas.”

Di sinilah pembahasan tentang pengambil risiko sering disalahartikan dengan pen­cari sensasi dan pecandu adrenalin. Hor­mon adrenalin juga merupakan sebuah neuro­transmiter; tetapi tidak seperti dopamin yang dapat mendorong kita ke arah bahaya dalam perjalanan mencapai tujuan tertentu, adrenalin dirancang untuk membantu kita melarikan diri dari bahaya. Cara kerjanya seperti ini: Ketika otak merasakan ancaman, hal itu memicu pelepasan adrenalin ke dalam aliran darah, yang pada gilirannya merangsang jantung, paru-paru, otot, serta bagian tubuh lainnya untuk membantu melarikan diri, atau melawan dalam situasi yang mengancam jiwa .

Namun, bukan adrenalin yang memotivasi penjelajah untuk mengambil risiko. “Penjelajah Arktika yang terseok-seok melintasi es selama sebulan tak termotivasi oleh adrenalin yang mengalir melalui pembuluh darah,” kata Zald. “Dopaminlah yang mengalir deras di otaknya.”
Hal yang penting dalam proses ini adalah bagai­mana otak mengukur risiko. Fotografer Paul Nicklen menjelaskan bagaimana definisi risiko yang dapat diterima telah berkembang dari waktu ke waktu. “Saat kecil saya tinggal di Arktika. Saya mendayung bongkahan es seperti rakit, yang mungkin berisiko. Ke­mudian saya belajar menyelam, dan terus ingin pergi lebih dalam, tinggal di air lebih lama, lebih dekat dengan satwa.”

“Untuk waktu yang lama, saya berkata pada diri sendiri, tak akan menyelam bersama walrus atlantik,” ungkapnya. “Alasan mengapa tak ada banyak foto walrus atlantik berenang di bawah es kutub, karena sangatlah sulit dan berbahaya memotong lubang di es setebal beberapa meter, menyelam ke dalam air sedikit di atas titik beku, lalu mencoba mendekati binatang seberat 1.300 kilogram. Mereka bisa sangat agresif saat merasa terganggu. Ada banyak cara untuk mati ketika melakukannya.”

Imbalan bagi Nicklen dalam mengambil risiko tersebut adalah berhasil mengambil gambar walrus begitu dekat, begitu tiga dimensi. Gambar-gambar yang membuat pembaca terpesona. “Saya ingin pembaca merasa seolah-olah diri mereka adalah walrus yang berenang dengan walrus lainnya. Untuk momen yang singkat, itulah yang saya rasakan waktu itu. Satu-satunya cara di mana saya bisa menggambarkan betapa kuatnya perasaan tersebut adalah dengan melalui foto-foto ini. Bisa dibilang saya kecanduan.”

Gerakan “garis risiko” pribadi Nicklen merupakan cara otaknya mengalibrasi ulang risiko berdasarkan pengalaman masa lalu, ungkap Larry Zweifel. “Ia dengan amat nyaman mengakui, apa saja situasi potensial yang mengancam dan bagaimana ia bisa menghindari situasi itu. Otaknya mengalkulasi risiko dan potensi imbalan, difasilitasi oleh sistem dopamin, yang kemudian memotivasi dirinya untuk menyelam.”

Mengaklimatisasi risiko adalah hal yang kita semua lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah saat kita belajar me­ngendarai mobil. Pada awalnya pengendara baru mungkin akan takut bepergian di jalan raya, tetapi seiring waktu, pengendara yang sama dengan pengalaman lebih banyak akan lebih santai bergabung ke tengah lalu lintas, mengebut dengan sedikit pertimbangan bagi potensi bahaya yang signifikan.

“Ketika suatu kegiatan menjadi rutinitas dan kebiasaan, kita membiarkan pertahanan kita turun, terutama saat tak ada hal buruk yang terjadi selama beberapa waktu,” kata Daniel Kruger, psikolog evolusi di University of Michigan. ”Kita memiliki sistem yang dirancang untuk bereaksi terhadap ancaman jangka pendek. Tetapi, saat sistem itu menyala sepanjang waktu, dampaknya akan sangat merugikan bagi tubuh,” seperti meningkatkan gula darah dan menekan sistem kekebalan.

Prinsip keterbiasaan ini juga dapat diterap­kan untuk membantu mengatasi rasa takut terkait situasi berisiko tinggi. Dengan melatih suatu kegiatan, manusia bisa terbiasa dengan risiko dan mengelola rasa takut yang muncul dalam situasi tersebut, ungkap Kruger.

Oktober silam, mantan penerjun payung Austria, Felix Baumgartner, menerapkan prinsip ini sampai ke titik ekstrem. Ia menaiki balon helium ke stratosfer dan melompat turun sejauh 36,3 kilometer dari atas Bumi. Ia mencatat rekor terjun bebas selama 4,5 menit dalam kecepatan melebihi 1.356 kilometer per jam.

Baumgartner dan timnya menghabiskan lima tahun memperbaiki peralatan, menggunakan altitude chamber atau ruang ketinggian untuk melakukan simulasi suhu dan tekanan, serta berlatih melompat dari beragam ketinggian.

“Bagi orang luar, melompat seperti itu tampak sarat oleh risiko,” ungkap Baumgartner. “Tetapi jika kalian perhatikan detailnya dengan cermat, kalian akan tahu bahwa risikonya telah diminimalisasi sebanyak mungkin.”

Namun, penting untuk diingat bahwa se­seorang tak harus melompat dari ruang angkasa untuk menjadi seorang pengambil risiko, kata Kruger. “Mengambil risiko adalah bagian dari warisan manusia. Kita semua termotivasi untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Mencapai keduanya melibatkan pilihan yang mungkin mengakibatkan hasil negatif. Itu juga disebut mengambil risiko.”

Gagasan bahwa kita semua keturunan penempuh risiko mencengangkan penulis Paul Salopek. “Manusia yang meninggalkan Lembah Great Rift adalah penjelajah besar pertama,” ia beralasan. Dengan pemikiran ini, ia telah memulai tujuh tahun perjalanan menempuh 35.400 kilometer untuk mengikuti jejak mereka saat memencar keluar dari Afrika dan menyebar di seluruh planet. Ini adalah jejak dari beberapa penempuh risiko pertama, yang di sepanjang jalan menyantap tanaman tidak dikenal dan daging binatang, belajar melintasi air dalam, dan menemukan cara untuk mempertahankan suhu tubuh mereka dalam udara dingin.

Dalam melakukan perjalanan ini, Salopek mengambil serangkaian risiko tersendiri. “Gagasannya adalah melakukan perjalanan sepanjang siang seperti bangsa nomaden saat mereka meninggalkan Afrika, 50.000 sampai 70.000 tahun silam. Para ilmuwan menemukan bahwa itu sekitar 16 kilometer sehari,” ujarnya pada Januari, tak lama sebelum ia memulai perjalanan dari situs di timur laut wilayah Afar Etiopia. Di sini, beberapa fosil manusia modern dalam bentuk bagian-bagian tubuh ditemukan untuk pertama kalinya. Dengan kecepatan ini, ia berencana melewati tiga benua dan kurang lebih 30 perbatasan internasional, serta puluhan bahasa dan kelompok etnis. Juga rangkaian pegunungan dan sungai, gurun dan dataran tinggi, kota yang hampir mati, serta metropolis baru yang hiruk-pikuk.

“Falsafah di balik perjalanan ini adalah untuk membuat pembaca tidak terlalu fokus pada pemikiran bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya,” katanya. “Dunia dapat mem­bunuh Anda dalam sekejap, entah Anda tinggal di rumah atau meninggalkan rumah.” Sebaliknya, ia berharap, “agar pembaca berpikir tentang cakrawala yang lebih luas, kemungkinan yang lebih luas dalam kehidupan, jalan yang ditempuh dan tidak ditempuh, dan menjadi nyaman dengan ketidakpastian.”

Pada dasarnya Salopek ingin mengingatkan kita bahwa pada inti diri yang terdalam, kita semua adalah penempuh risiko, meski ada be­berapa orang yang lebih daripada yang lain. Dan  keinginan bersama untuk menjelajahi planet inilah yang telah mengikat spesies kita dari awal.

Ini adalah gagasan luhur, meskipun hanya salah satu dari sekian banyak yang digerakkan oleh dopamin.

Jumat, 28 Juni 2013

Generasi “Aku Aku Aku” Indonesia

Sebuah artikel sampul majalah TIME edisi Mei lalu mengangkat analisis berjudul “The Me Me Me Generation - Why They’ll Save Us All”. Dalam artikel sepanjang enam halaman garapan sosialis Joel Stein itu dituangkan banyak fakta yang menjelaskan mengapa orang muda yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, bisa jadi masalah sekaligus “dinamika baru” bagi perkembangan dunia. Golongan generasi ini disebut sebagai millenial.

Dijelaskan, karakter generasi millenial yang paling nampak adalah malas, narsistis dan penuh gengsi, dan cenderung tidak mandiri. Setelah baca rampung artikel ini, saya berpikir bahwa Indonesia punya semua karakter generasi millenial. Stein menggarisbawahi kesimpulan bahwa dengan segala macam sifat kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri, abai terhadap informasi-informasi signifikan dan terlalu banyak mengumbar hal-hal yang tidak relevan di internet, generasi millenial akan jadi penanda baru dalam sejarah peradaban. “Millenial tidak mencoba mengambil alih perbaikan dan pengembangan kehidupan, mereka bertumbuh sendiri tanpa perkembangan itu,” tulis Stein.

Saya mudah sekali melihat diri saya sendiri di cermin sebagai bagian dari generasi millenial dengan beberapa karakter yang masuk akal. Saya punya Twitter, pernah aktif di Facebook, menggemari fitur obrolan dan berbagi foto, sering mengeluh, malas untuk hal-hal yang sebenarnya baik, dan sangat berat untuk tidak mengikuti tren pakaian ataupun pemilihan gadget. Saya bahkan (di beberapa kasus) tidak tahu mengapa sebetulnya saya memiliki barang ini dan barang itu. Saya menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang tidak saya perlukan.

Akan tetapi saya tidak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Pendapat yang membanding-bandingkan “generasi millenial” dengan generasi Oprah Winfrey, Jennifer Lopez hingga Agnes Monica di Indonesia menurut saya hanya sebuah tolok ukur untuk melihat sejauh mana peradaban (dengan revolusi arus informasinya) membentuk kecenderungan sosial kaum muda.

Generasi “aku aku aku” Indonesia terbentuk karena persaingan global yang dipersenjatai kemajuan teknologi informasi. Jumlah kelas tengah Indonesia yang kini menyentuh angka 135 juta jiwa membentuk pencitraan baru bagi kaum muda di lingkungan sosial.

Dr. Neila Ramdhani, dosen Psikologi UGM yang terlibat dalam riset pengaruh internet terhadap anak dan remaja, berpendapat bahwa kecenderungan remaja saat ini mengikuti perkembangan teknologi, bukan didasari pada pengertian mereka terhadap dinamika informasi apalagi kemajuan teknologi itu sendiri. Saat seorang remaja SMA membeli iPhone, itu adalah karena dorongan eksternal, dan bukan pemahamannya sendiri terhadap perangkat yang digunakan. “Gadget di zaman sekarang bisa menjadi alat tawar yang kuat untuk mendapatkan posisi sosial,” jelasnya.

Seseorang dari kalangan bawah bahkan bisa merasa menjadi bagian dari kelas tengah bahkan atas ketika mereka memakai semua alat tawar yang dimaksud: pakaian, dandanan, kendaraan, ponsel, dsb. Walaupun itu berpura-pura. Bentuk pencitraan yang tidak terkontrol penuh membawa pada publisitas yang tidak seimbang.

Generasi “aku aku aku” dinilai sebagai pemalas dan sangat bergantung, cenderung tidak mandiri apalagi independen. Gemar memperlihatkan kemewahan yang bukan hasil kerja keras mereka alias pemberian orang tua. Mendambakan hasil tapi kurang menghargai proses. Mereka senang orang-orang mengetahui apa yang mereka lakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi karena menganggap Twitter memberi kesempatan untuk itu. Sekelompok mahasiswa yang baru lulus mencari pekerjaan di sana sini atau mengikuti Job Fair dan sebagian dari mereka tidak tahu apa yang benar-benar mereka inginkan untuk perbaikan hidup. Pengalaman harian mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu menonton reality show komedi percintaan di televisi atau membaca buku-buku hiburan menjadi pengalihan yang kuat dari pilihan hidup yang seharusnya sudah bisa ditentukan sejak usia 20.

Generasi sekarang abai terhadap hal-hal yang di luar minat mereka, atau di luar tren yang mereka ikuti. Generasi ini selalu mendambakan karir cemerlang di perusahaan besar setelah wisuda tetapi mereka kebingungan saat ditanya “apa yang bisa kau lakukan untuk membuat perubahan?” Saat mendapatkan karir baik, mereka tetap memoles diri karena mempercayai bahwa jenis pekerjaan masa kini masih terpisah-pisah dalam kasta.

Pe-de vs. narsisitas

Sekitar tahun 1970-an para ilmuwan dunia mempelajari pengarauh pengembangan kepercayaan diri bagi anak, yang di Amerika kemudian dikenal sebagai self-esteem, tingkat keempat dari lima tingkatan di teori Piramida Maslow. Kepercayaan diri atau yang di Indonesia sering disebut pe-de benar-benar jadi barang penting untuk diperkenalkan sebagai karakter moral seorang anak sejak lahir. Hanya saja dalam perkembangannya, kepercayaan diri ini menjelma menjadi tak terkendali.

Generasi millenial sering kali mengaku kepercayaan diri mereka terbentuk utuh, akan tetapi sulit membedakan pede dengan narsistis. Percaya diri bukanlah memfoto diri sendiri di depan cermin kamar mandi mal ataupun memasang foto di layar ponsel. Percaya diri bukanlah tampil gaya penuh warna di forum publik yang dihadiri oleh orang-orang penting dan terdidik. Kecenderungan keliru mengartikan narsistis sebagai percaya diri akan terlihat lucu, karena orang-orang dari generasi sebelum kita ini akan menemukan sebuah fenomena “transisi teori” yang mengejutkan. Pemaknaan terhadap “kepercayaan diri” justru hilang saat anak-anak muda dengan penampilan necis diminta berpidato di forum publik, kemudian terbata-bata.

Perhatikan saja. Banyak anak muda, dari remaja hingga usia 30, terlihat ingin tampil di publik secara visual. Mereka ingin jadi pusat perhatian akan tetapi enggan terlibat dalam publisitas nyata. Suka diperhatikan tapi tidak menunjukkan kepedulian. Narsisitas membawa sekelompok orang ceria dan warna-warni bergabung dengan kelompok lain yang punya kecenderungan dandanan sama, atau selera obrolan yang sama. Uniknya, tingkat kesetiaan dalam kelompok narsistis ternyata besar dan relatif tak bisa disaingi, sebagaimana diuraikan dalam buku Akar Kekerasan - Analisis Sosio-Psikologis atas Watak Manusia tulisan Erich Fromm. Lingkungan sosial jalanan memberi cap “gaul” tapi tidak mengakui keterlibatan anak-anak muda ini dalam fungsi lingkungan yang sebenarnya.

Beruntungnya, kecenderungan kelompok muda Millenial untuk berkelompok dan bergaul lebih luas memberi harapan bagi penyelesaian masalah-masalah sosial lainnya. Walaupun tingkat abai masyarakat meningkat, kelompok generasi “aku” tetap mempercayai bahwa mereka bisa melakukan sesuatu saat mereka hidup serius setelah usia 30. Ungkapan “bagaimana nantinya saja” kiranya akan menyelamatkan pembangunan bangsa yang nantinya akan dilakoni oleh muda-mudi yang saat ini masih bergaul ke sana ke mari. Bukti bahwa saat ini banyak instansi pemerintah memanfaatkan aktivitas kaum muda guna menuntaskan program-program berkelanjutan menjadi gejala yang menjanjikan. Tetap ada banyak ruang bagi muda-mudi yang mau berpikir relevan dan memiliki visi bagi pembangunan.

Generasi “aku aku aku” ala Millenial lahir setelah generasi yang di Amerika disebut sebagai Generasi X. Pendiri Facebook Mark Zuckerburg dan megabintang Lady Gaga jadi penanda penting bagi Millenial dunia, mengakhiri kejayaan generasi sebelumnya ala Warren Buffet dan Jennifer Lopez. Akan tetapi di Indonesia, tampaknya perubahan kejayaan antar-generasi ini belum akan terjadi dalam waktu yang dekat. Generasi X Indonesia setingkat aktris senior Jajang C. Noer, menteri perdagangan Gita Wirjawan atau sejarawan J.J. Rizal masih akan dipertahankan guna menyelamatkan peradaban bangsa. Jujur saja itu masuk akal, karena generasi Millenial kita masih belum muncul ke permukaan.

Sumber http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/27/generasi-aku-aku-aku-indonesia-572538.html

Manfaat Merokok

Sudah sering dibahas buruknya manfaat merokok, sekarang saya akan coba bahas 10 manfaat merokok, antara lain :
1. Mendukung program pemerintah dalam mengurangi jumlah penduduk. Berikut data-data yg dilansir WHO:
- Setiap Menit, 60 Orang Mati Karena Rokok
- 100 juta kematian tercatat akibat tembakau pada abad ke 20 lalu. Jika tren ini terus berlanjut, akan ada kenaikan hingga satu miliar kematian pada abad ini
- Di Indonesia diperkirakan terjadi 1.174 kematian perhari akibat asap rokok.

2. Bisa menjadi batu loncatan untuk karir yang lebih tinggi. Peneliti kesehatan dari Universitas Indonesia, Rita Damayanti mengatakan “Rokok adalah batu loncatan (stepping stone) untuk mengambil risiko yang lebih besar,” Menurut data penelitian Rita, orang yang pernah merokok akan berisiko 13 kali menenggak alkohol, 7 kali berhubungan seks pranikah, dan 1,3 kali kecanduan narkoba. Ngerokok jg asik sambil main judi. dll

Kamis, 27 Juni 2013

Untuk Kamu yang Salah Jurusan

Setiap diri ini mempunyai kelebihan yag harus diasah agar bisa menjadi potensi yang baik untuk kita meraih kesuksesan. Banyak yang berpikir kelebihan ini harus diasah di masa perkuliahan dengan mengambil jurusan yang senada dengan kelebihan itu. Entah itu dibidang ekonomi, teknologi informasi, ilmu sosial dll. Namun, begitu banyak yang begitu mereka "nyemplung" di perguruan tinggi ada yang merasa "Wah Gue salah jurusan nih". Jujur, itu pun saya alami. Gimana cara menyikapi situasi seperti ini? Berikut poin-poinnya :

Kamis, 30 Mei 2013

Pro-Kontra Regulasi Rokok di Indonesia

Penulis : Irwan Julianto

Sumber: Kompas Jumat, 1 Februari 2013

Banjir besar yang melanda Jakarta, pekan lalu, menimbulkan kerugian triliunan rupiah harta milik pribadi dan dunia usaha. Setidaknya ada 20 nyawa melayang. Yang pasti untuk penyelamatan Jakarta agar tak dilanda banjir besar lagi dibutuhkan dana sekitar Rp 60 triliun.

Namun, tak banyak orang menyadari, besarnya kerugian dan dana penyelamatan Jakarta masih kalah dibanding besarnya penghamburan dana dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh rokok yang mencapai Rp 225 triliun per tahun.


Hiruk pikuk pemberitaan banjir besar di Jakarta jauh lebih gaduh dibandingkan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang dikeluarkan pemerintah, akhir Desember lalu.

Pria Dilarang Tanya 10 Hal Ini pada Wanita


David DeAngelo, penulis ‘Double Your Dating,’ memberi 10 tips agar pria tidak melakukan kesalahan yang kemudian akan disesalinya dalam berkencan. Apa saja itu?

Selasa, 28 Mei 2013

Air Putih dan Lemon kombinasi Sehat dan Mantap

Untuk menjaga kesehatan tubuh, dianjurkan untuk minum air putih minimal sebanyak 8 gelas per hari. Namun, banyak yang beralasan bosan untuk minum air putih. Dengan menambahkan irisan lemon, banyak manfaat yang bisa didapat selain rasanya yang menjadi lebih segar.

Konsumsi air putih sangat penting untuk masyarakat saat ini, termasuk pekerja yang sehari-harinya berada di dalam ruangan AC. Meskipun membosankan, cukup air putih sangat penting.

Berikut 10 manfaat kesehatan dari mengonsumsi air putih dengan potongan lemon, seperti dilansir dari Times of India, Selasa (28/5/2013):

Senin, 01 April 2013

Tukang Becak dan Bayi Perempuannya


Hati siapa yang tidak tersentuh melihat seorang pria menarik becak di siang hari yang panas sambil menggendong bayi? Hal ini benar-benar terjadi di India. Pria ini mengasuh bayinya karena sang istri meninggal setelah melahirkan dan tidak ada yang bersedia merawat sang bayi.

Nama pria ini adalah Bablu Jatav, 38 tahun. Dia dikaruniai seorang bayi perempuan yang diberi nama Damini setelah menikah selama 15 tahun dengan istrinya, Shanti. Pak Bablu mengatakan bahwa dia sangat senang diberkati seorang putri, tetapi dia menyimpan kesedihan mendalam karena sang istri meninggal sesaat setelah melahirkan.

Mimpi Seorang Raja

Seorang raja sedang bermimpi, bahwa dalam mimpinya "semua giginya tanggal semua", kemudian raja memanggil pengawalnya untuk menerjemahkan artinya.  
Kemudian pengawal itu berkata, "bahwa raja akan kehilangan seluruh keluarganya dan mati." Kemudian raja marah dan menghukum pengawal itu dengan 20x cambukan. Karena tidak puas raja memanggil pengawal berikutnya, untuk menerjemahkan arti mimpinya. 
Pengawal berikutnya berkata, "bahwa raja harus berbahagia karena raja sendiri dalam keluarganya akan berumur panjang." Akhirnya raja tertawa dan berbahagia, memberi hadiah 20 tail emas kepada pengawal itu. 
Kemudian, raja memanggil tabib istana di suruh menyimpulkan dan bertanya, "Siapa diantara kedua pengawal itu uang terhebat?" Tabib istana menyimpulkan, bahwa kedua pengawal itu sama-sama hebatnya. Semua berkata jika raja akan kehilangan seluruh keluarganya dan raja berbahagia hidup seorang diri. Tetapi kedua pengawal itu berbeda dalam cara penyampaian, dan perkataan
Itulah komunikasi !!
Sebuah seni komunikasi, cara bicara dan penyampaian, waktu dan keadaan akan mempengaruhi seseorang.
Komunikasikan apapun semuanya dengan baik, maka usaha anda, pekerjaan, keluarga, pasangan kekasih, suami isteri, rekan kerja, bahkan bisnis akan menuai kesuksesan.
Sumber: https://www.facebook.com/pages/MOTIVASI-DAN-MOTIVATOR/291643475776?ref=stream

Minggu, 31 Maret 2013

Ternyata Cuma 1,5 jam Saja Umur Kita Hidup di Dunia Ini

Mari kita lihat berdasarkan Al Qur'an sebagai sumber kebenaran absolut.

1 hari akhirat = 1000 tahun. 
24 jam akhirat = 1000 tahun. 
3 jam akhirat = 125 tahun.
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.
Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja. Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.

Selasa, 26 Maret 2013

Menulis itu Busuk

Menulis, suatu kegiatan yang pasti dapat dilakukan oleh sebagian besar manusia. Merupakan suatu ketrampilan kreatif untuk menuangkan gagasan. Menuangkan semua kenangan kejadian indah, menyenangkan, memalukan, atau bahkan hal yang buruk sekalipun untuk diingat. 




Senin, 25 Maret 2013

Orang-orang Buta dan Gajah

Di seberang Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta. Seorang raja dengan pengikutnya lewat dekat kota itu; ia membawa tentara dan memasang tenda di gurun. Ia mempunyai seekor gajah perkasa, yang dipergunakannya untuk berperangdan menimbulkan ketakjuban rakyat.

Minggu, 24 Maret 2013

Bahagia sejenak

Bahagia sejenak
kamu dan aku duduk di serambi
kita dua, tapi satu roh, kamu dan aku
kita rasa aliran air kehidupan di sini
kamu dan aku dengan keindahan taman
dan burungburung bernyanyi
bintangbintang menatap kita
dan kita menanyakan mereka
‘gimana mau menjadi bulan sabit kecil
kamu dan aku bukan diri, bakal menyatu
takberasingan, betapa spekulasi kamu dan aku.
tiong syorgawi bakal retakkan gula
waktu kita tertawa bersama, kamu dan aku
dalam satu bentuk di muka bumi ini
dan dalam bentuk lain di bumi manis
di kebebasan waktu yang tak tecatat


JALALUDDIN RUMI
Kuliyyat-e Shams, 2114
Terjemahan: Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)