Sabtu, 13 Juli 2013

Indonesia...berbenahlah!

Kadang, saya merasa hidup di negara ini seperti hidup di dunia ketiga. Dunia antah berantah yang tidak didengar oleh alam semesta. Seringkali, saya merasa bahwa kita, terlalu rendah hati dan rendah diri sehingga merasa begitu kecil bila dibandingkan dengan negara lain. Sehingga ketika ada satu kejadian kecil yang membuat nama negara ini disebut, tiba-tiba kita bereaksi dengan kebanggan dan nasionalisme yang begitu berlebihan.

Kamis, 11 Juli 2013

Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji?

Gelar haji Konon hanya dipakai oleh bangsa melayu. Tidak ada dalil yang mengharuskan jika setelah menunaikan ibadah haji harus diberi gelar haji/hajjah. Bahkan sahabat Rasulullah pun tidak ada yang dipanggil haji.

Sejarah pemberian gelar haji dimulai pada tahun 654H, pada saat kalangan tertentu di kota Makkah bertikai dan pertikaian ini menimbulkan kekacauan dan fitnah yang mengganggu keamanan kota Makkah.

Karena kondisi yang tidak kondusif tersebut, hubungan kota Makkah dengan dunia luar terputus, ditambah kekacauan yang terjadi, maka pada tahun itu ibadah haji tidak bisa dilaksanakan sama sekalai, bahkan oleh penduduk setempat juga tidak.

Setahun kemudian setelah keadaan mulai membaik, ibadah haji dapat dilaksanakan. Tapi bagi mereka yang berasal dari luar kota Makkah selain mempersiapkan mental, mereka juga membawa senjata lengkap untuk perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan perengkapan ini para jemaah haji ibaratkan mau berangkat ke medan perang.

Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang. Dengan kemeriahan sambutan dengan tambur dan seruling, mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari situ, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.

Gelar Haji di Indonesia
Di zaman penjajahan belanda, pemerintahan kolonial sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapat ijin dari pihak pemerintah belanda. Mereka sangat khawatir dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu menimbulkan pemberontakan.

Masalahnya, banyak tokoh yang kembali ke tanah air sepulang naik Haji membawa perubahan. Contohnya adalah Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Pemerintahan kolonial pun mengkhususkan P. Onrust dan P. Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.

Jadi demikianlah, gelar Haji pertama kali dibuat oleh pemerintahan kolonial dengan penambahan gelar huruf “H” yang berarti orang tersebut telah naik haji ke mekah. Seperti disinggung sebelumnya, banyak tokoh yang membawa perubahan sepulang berhaji, maka pemakaian gelar H akan memudahkan pemerintah kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

Uniknya, pemakaian gelar tersebut sekarang malah jadi kebanggaan. Tak lengkap rasanya bila pulang berhaji tak dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. Ritual ibadah yang berubah makna menjadi prestise? Ironis

Rabu, 10 Juli 2013

Syayma, Calon Dokter Penghafal Al-Qur'an

Syayma Karimah, alumnus SMA IT Al Kahfi, Cigombong Bogor, Jawa Barat, merasa bangga dan bersyukur, karena bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi di Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, melalui jalur berbeda dengan mahasiswa lain.

Putri pasangan Muhammad Supariyono dan Miftahatul Bariyah yang lahir di Bogor, 5 juni 1994 lalu ini, diterima di Fakultas Kedokteran, UNS, tahun 2012 lalu, berkat kelebihannya menghafal Alquran.

Mahasiswi semester dua ini merasa beruntung dan dipermudah masuk UNS karena dirinya mempunyai kelebihan hafidz Alquran 30 juz, dibandingkan siswi lain saat mendaftar kuliah. Syayma menceritakan, dirinya mendapatkan undangan untuk mengikuti ujian masuk UNS, yang salah satu syaratnya adalah hafal Alquran.

"Saat mendaftar saya melampirkan syarat-syarat, seperti surat keterangan hafidz 30 juz, sertifikat juara II lomba pidato bahasa Arab, ajang remaja berprestasi tingkat Jawa barat dan DKI Jakarta, dan juara V Olimpiada Sains Nasional Cabang Kimia tingkat Kabupaten Bogor," ujar Syayma kepada merdeka.com.

Selain syarat tersebut, menurut Syayma, syarat utama untuk masuk Fakultas Kedokteran adalah nilai rapor. Saat seleksi terakhir, lanjut Syayma, nilai rapornya sama dengan peserta seleksi lain. Namun karena dirinya menyertakan surat keterangan hafidz 30 juz Alquran, UNS lebih memilihnya menjadi calon mahasiswa.

"Bangga dan bersyukur rasanya, karena saya yang lebih diprioritaskan untuk diterima, tanpa harus membayar uang pangkal, meskipun nilai rapor kami sama," katanya.

Sementara itu, Rektor UNS Surakarta Ravik Karsidi membenarkan kampusnya memiliki jalur khusus penerimaan bagi calon mahasiswa yang punya keahlian menghafal Alquran, sejak tahun 2011. Salah satu syaratnya harus hafal minimal 20 juz Alquran. Sejak tahun 2012, sudah sudah ada delapan mahasiswa yang diterima di UNS.

"Ini bentuk apresiasi kepada penghafal Alquran. Ada 8 siswa yang kami terima, 2011 ada tiga siswa, 2012 ada lima. Mereka masing-masing di Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik," ujarnya.

Menurut Ravik kedelapan mahasiswa tersebut juga dilibatkan dalam kegiatan keagamaan yang dipusatkan di masjid kampus. Kegiatan tersebut bukan hanya menghafal Alquran, tetapi juga bagaimana mengamalkannya. Sementara bagi mereka yang kurang mampu, UNS akan mengikutsertakannya dalam program Bidik Misi.

Senin, 08 Juli 2013

Seorang Ilmuwan Masuk Islam Karena Anjing

Pada kali ini, sebuah kisah seorang ilmuwan akhirnya menjadi mu'alaf setelah mengetahui secara persis karakter binatang berupa anjing.
Seorang ilmuwan besar yang mendalami bidang bakteri berkunjung ke Mesir untuk menyekolahkan anaknya dan dia sendiri memperoleh pekerjaan dalam bidangnya tersebut. Pada suatu hari dia membaca buku hadist yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Tiba² dia tidak percaya ketika membaca hadist Nabi SAW.

Rasulullah SAW bersabda,
"Jika seekor anjing menjilat perkakas rumah salah seorang di antara kalian, maka cucilah alat (tempat) itu tujuh kali, satu kali diantara yang tujuh itu dicampur dengan tanah...!!!"

Sejenak dia berdiam menatap hadist itu. Dalam dirinya mulai timbul pertanyaan², bahwa perintah mencuci tujuh kali itu memang harus dilakukan, dan merupakan kewajiban, namun mengapa Nabi masih menyuruh membasuh tempat itu satu kalinya dengan tanah...??? Tidakkah dengan memakai air saja sudah cukup...???

Pertanyaan itu terus mengganggunya. Kemudian dia mengambil sebuah perkakas rumah dan membiarkannya dijilati anjing. Lalu mencucinya dengan air tujuh kali. Setelahnya ia teliti dengan menggunakan mikroskop, dan yang terlihat adalah berjuta² bakteri masih melekat di tempat itu. Berarti mencuci dengan air tidaklah cukup untuk menghilangkan bakteri atau kuman² penyakit anjing yang melekat ditempat tersebut.

Sekarang dia mencoba sekali lagi, mencuci tempat itu dengan debu. Dan setelah diteliti, ternyata, kuman² telah hilang seluruhnya.

Pertanyaan yang timbul dibenaknya sekarang adalah siapa yang memberitahukan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW...???

Padahal penemuan rahasia bakteri baru diketemukan oleh Pasteur (1822-1895).

Bukankah jauh sekali jarak antara Muhammad dengan Pasteur...???

Berarti penemuan Pasteur hanyalah mengulang penemuan lama, dimana Muhammad telah mengetahui bahwa bakteri atau kuman penyakit itu ada pada anjing dan dapat dihilangkan hanya dengan mempergunakan debu dan dibasuh dengan air enam kali.

Siapa yang memberitahukan hakikat ilmiah ini kepada Nabi Muhammad SAW...???

Subhanallah, Allah SWT lah yang memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad SAW, segala hal yang bermanfaat bagi umatnya.

Dan akhirnya keyakinan ilmuwan tersebut memperkuatnya untuk masuk Islam bersama puterinya yang kala itu ikut bersamanya ke Kairo.

Misteri Nyali

Apa yang membuat penjelajah mau menghadapi bahaya dan terus melanjutkan?

Orang yang memimpin ekspedisi masyhur sepanjang jalur Grand Canyon sama sekali tidak mirip sosok petualang dari masa 1870-an. Tinggi John Wesley Powell hanya 168 sentimeter,  dengan rambut kaku seperti bulu sikat, dan jenggot awut-awutan­—dengan noda tembakau—yang panjangnya sampai ke dada.

Lengan kanannya buntung, kena peluru  miniĆ© saat Pertempuran Shiloh. Tetapi, setelah perang, ia pergi menyurvei Pegunungan Rocky, hidup di antara suku-suku Indian yang berseteru, mengarungi Sungai Green dan Colorado, dan menjelajahi labirin yang belum terpetakan dari salah satu sistem ngarai terbesar di dunia. Orang asing mungkin ber­tanya-tanya apa yang membuat profesor uni­versitas berlengan satu ini memulai se­jumlah eksplorasi paling berisiko pada masanya.

Sebenarnya, hal yang sama bisa saja di­tanya­kan kepada 32 orang yang bergabung dengan Powell pada 13 Januari 1888, di Cosmos Club Washington D. C. Seperti diri­nya, sebagian besar dari mereka telah melakukan perjalanan berbahaya versi mereka sendiri ke pedalaman tak dikenal. Di antara mereka terdapat veteran Perang Sipil dan operasi militer Indian, perwira angkatan laut, pendaki gunung, ahli meteorologi, insinyur, naturalis, kartografer, ahli etnologi, dan wartawan yang pernah me­nyeberangi Siberia. Mereka adalah orang-orang yang pernah terdampar di Arktika, ber­hasil selamat melalui cuaca buruk di laut, lolos dari serangan binatang dan avalans, meng­alami kelaparan ekstrem, dan bertahan me­lawan kesepian yang menghancurkan jiwa, dalam perjalanan-perjalanan mengarungi lanskap terpencil.

Mereka berkumpul malam itu untuk men­dirikan National Geographic Society dan se­pakat bahwa misi organisasi baru mereka—peningkatan dan penyebaran pengetahuan geografis—akan membutuhkan eksplorasi yang sulit ke wilayah tak dikenal.

Segala macam eksplorasi berakar pada gagasan bersedia mengambil risiko. Risiko men­dasari perjalanan apa pun ke tempat yang tak diketahui. Baik itu perjalanan seorang kapten ke laut yang belum dipetakan, penelitian ilmuwan tentang penyakit berbahaya, atau investasi pengusaha dalam bisnis baru. Tetapi, apa sebenarnya yang mendorong Christopher Columbus memulai pelayaran melintasi Atlantik, atau Edward Jenner menguji teori­nya untuk vaksin cacar dini pada anak, atau Henry Ford bertaruh bahwa mobil bisa meng­gantikan kuda? Sejumlah motivasi untuk mengambil risiko sangatlah jelas: imbalan finansial, kemasyhuran, kepentingan politik, menyelamatkan nyawa. Banyak orang rela membuka diri terhadap berbagai tingkat risiko dalam mengejar tujuan itu.

Namun bersamaan dengan meningkatnya bahaya, jumlah orang yang bersedia untuk melanjutkan pun menyusut, sampai satu-satunya yang bertahan adalah pe­nempuh risiko ekstrem, mereka yang bersedia membahayakan reputasi, keberuntungan, dan kehidupan mereka. Ini adalah misteri risiko: Apa yang membuat beberapa manusia bersedia membahayakan diri begitu banyak dan terus melakukannya, bahkan ketika menghadapi konsekuensi yang mengerikan?

Seratus dua puluh lima tahun setelah malam di Cosmos Club, para ilmuwan mulai membuka kotak hitam neurologis. Isinya: mekanisme untuk mengambil risiko dan menggabungkan faktor biologis yang dapat mendorong seseorang men­jadi penjelajah. Penelitian berpusat pada neurotransmiter, bahan kimia yang mengontrol komunikasi di otak. Salah satu neurotransmiter yang penting untuk rumus pengambilan ri­siko adalah dopamin. Zat ini membantu me­ngendalikan keterampilan motorik, juga men­dorong kita mencari dan mempelajari hal baru serta memproses emosi seperti kecemasan dan ketakutan. Orang yang otaknya tak meng­hasilkan cukup dopamin seperti penderita Parkinson, sering mengalami kesulitan dengan sikap yang apatis dan kurangnya motivasi.

Produksi dopamin yang kuat adalah salah satu kunci untuk memahami pengambilan risiko, ungkap Larry Zweifel, ahli neurobiologi dari University of Washington. “Saat Anda berbicara tentang seseorang yang mengambil risiko untuk mencapai sesuatu—mendaki gunung, memulai sebuah perusahaan, mencalonkan diri untuk jabatan tertentu, menjadi Navy SEAL—itu didorong oleh motivasi, dan motivasi didorong oleh sistem dopamin. Inilah yang memaksa manusia untuk bergerak maju.”

Dopamin membantu mendatangkan rasa puas saat kita menyelesaikan berbagai tugas: semakin berisiko tugas itu, semakin besar dosis dopaminnya. Sebagian alasan mengapa tak semua orang mendaki gunung atau men­calonkan diri untuk jabatan tertentu, adalah bahwa tak semua orang punya kadar dopamin yang sama. Molekul pada permukaan sel-sel saraf yang disebut autoreseptor, yang me­ngontrol berapa banyak dopamin yang kita hasil­kan dan gunakan, pada dasarnya me­ngendalikan keinginan untuk mengambil risiko.

Dalam penelitian di Universitas Vander­bilt, peserta menjalani pemindaian yang me­mungkinkan ilmuwan mengamati autoreseptor di bagian sirkuit otak yang berhubungan dengan penghargaan, kecanduan, dan gerakan. Orang dengan sedikit autoreseptor—dopamin yang mengalir lebih bebas—lebih mungkin terlibat dalam perilaku pencarian hal baru, misalnya eksplorasi. “Bayangkan dopamin seperti bensin,” kata neuropsikolog David Zald, peneliti utama studi tersebut. “Gabungkan hal itu bersama otak yang dilengkapi dengan kemampuan lebih rendah untuk mengerem dari biasanya, dan Anda akan mendapatkan orang-orang yang melewati batas.”

Di sinilah pembahasan tentang pengambil risiko sering disalahartikan dengan pen­cari sensasi dan pecandu adrenalin. Hor­mon adrenalin juga merupakan sebuah neuro­transmiter; tetapi tidak seperti dopamin yang dapat mendorong kita ke arah bahaya dalam perjalanan mencapai tujuan tertentu, adrenalin dirancang untuk membantu kita melarikan diri dari bahaya. Cara kerjanya seperti ini: Ketika otak merasakan ancaman, hal itu memicu pelepasan adrenalin ke dalam aliran darah, yang pada gilirannya merangsang jantung, paru-paru, otot, serta bagian tubuh lainnya untuk membantu melarikan diri, atau melawan dalam situasi yang mengancam jiwa .

Namun, bukan adrenalin yang memotivasi penjelajah untuk mengambil risiko. “Penjelajah Arktika yang terseok-seok melintasi es selama sebulan tak termotivasi oleh adrenalin yang mengalir melalui pembuluh darah,” kata Zald. “Dopaminlah yang mengalir deras di otaknya.”
Hal yang penting dalam proses ini adalah bagai­mana otak mengukur risiko. Fotografer Paul Nicklen menjelaskan bagaimana definisi risiko yang dapat diterima telah berkembang dari waktu ke waktu. “Saat kecil saya tinggal di Arktika. Saya mendayung bongkahan es seperti rakit, yang mungkin berisiko. Ke­mudian saya belajar menyelam, dan terus ingin pergi lebih dalam, tinggal di air lebih lama, lebih dekat dengan satwa.”

“Untuk waktu yang lama, saya berkata pada diri sendiri, tak akan menyelam bersama walrus atlantik,” ungkapnya. “Alasan mengapa tak ada banyak foto walrus atlantik berenang di bawah es kutub, karena sangatlah sulit dan berbahaya memotong lubang di es setebal beberapa meter, menyelam ke dalam air sedikit di atas titik beku, lalu mencoba mendekati binatang seberat 1.300 kilogram. Mereka bisa sangat agresif saat merasa terganggu. Ada banyak cara untuk mati ketika melakukannya.”

Imbalan bagi Nicklen dalam mengambil risiko tersebut adalah berhasil mengambil gambar walrus begitu dekat, begitu tiga dimensi. Gambar-gambar yang membuat pembaca terpesona. “Saya ingin pembaca merasa seolah-olah diri mereka adalah walrus yang berenang dengan walrus lainnya. Untuk momen yang singkat, itulah yang saya rasakan waktu itu. Satu-satunya cara di mana saya bisa menggambarkan betapa kuatnya perasaan tersebut adalah dengan melalui foto-foto ini. Bisa dibilang saya kecanduan.”

Gerakan “garis risiko” pribadi Nicklen merupakan cara otaknya mengalibrasi ulang risiko berdasarkan pengalaman masa lalu, ungkap Larry Zweifel. “Ia dengan amat nyaman mengakui, apa saja situasi potensial yang mengancam dan bagaimana ia bisa menghindari situasi itu. Otaknya mengalkulasi risiko dan potensi imbalan, difasilitasi oleh sistem dopamin, yang kemudian memotivasi dirinya untuk menyelam.”

Mengaklimatisasi risiko adalah hal yang kita semua lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah saat kita belajar me­ngendarai mobil. Pada awalnya pengendara baru mungkin akan takut bepergian di jalan raya, tetapi seiring waktu, pengendara yang sama dengan pengalaman lebih banyak akan lebih santai bergabung ke tengah lalu lintas, mengebut dengan sedikit pertimbangan bagi potensi bahaya yang signifikan.

“Ketika suatu kegiatan menjadi rutinitas dan kebiasaan, kita membiarkan pertahanan kita turun, terutama saat tak ada hal buruk yang terjadi selama beberapa waktu,” kata Daniel Kruger, psikolog evolusi di University of Michigan. ”Kita memiliki sistem yang dirancang untuk bereaksi terhadap ancaman jangka pendek. Tetapi, saat sistem itu menyala sepanjang waktu, dampaknya akan sangat merugikan bagi tubuh,” seperti meningkatkan gula darah dan menekan sistem kekebalan.

Prinsip keterbiasaan ini juga dapat diterap­kan untuk membantu mengatasi rasa takut terkait situasi berisiko tinggi. Dengan melatih suatu kegiatan, manusia bisa terbiasa dengan risiko dan mengelola rasa takut yang muncul dalam situasi tersebut, ungkap Kruger.

Oktober silam, mantan penerjun payung Austria, Felix Baumgartner, menerapkan prinsip ini sampai ke titik ekstrem. Ia menaiki balon helium ke stratosfer dan melompat turun sejauh 36,3 kilometer dari atas Bumi. Ia mencatat rekor terjun bebas selama 4,5 menit dalam kecepatan melebihi 1.356 kilometer per jam.

Baumgartner dan timnya menghabiskan lima tahun memperbaiki peralatan, menggunakan altitude chamber atau ruang ketinggian untuk melakukan simulasi suhu dan tekanan, serta berlatih melompat dari beragam ketinggian.

“Bagi orang luar, melompat seperti itu tampak sarat oleh risiko,” ungkap Baumgartner. “Tetapi jika kalian perhatikan detailnya dengan cermat, kalian akan tahu bahwa risikonya telah diminimalisasi sebanyak mungkin.”

Namun, penting untuk diingat bahwa se­seorang tak harus melompat dari ruang angkasa untuk menjadi seorang pengambil risiko, kata Kruger. “Mengambil risiko adalah bagian dari warisan manusia. Kita semua termotivasi untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Mencapai keduanya melibatkan pilihan yang mungkin mengakibatkan hasil negatif. Itu juga disebut mengambil risiko.”

Gagasan bahwa kita semua keturunan penempuh risiko mencengangkan penulis Paul Salopek. “Manusia yang meninggalkan Lembah Great Rift adalah penjelajah besar pertama,” ia beralasan. Dengan pemikiran ini, ia telah memulai tujuh tahun perjalanan menempuh 35.400 kilometer untuk mengikuti jejak mereka saat memencar keluar dari Afrika dan menyebar di seluruh planet. Ini adalah jejak dari beberapa penempuh risiko pertama, yang di sepanjang jalan menyantap tanaman tidak dikenal dan daging binatang, belajar melintasi air dalam, dan menemukan cara untuk mempertahankan suhu tubuh mereka dalam udara dingin.

Dalam melakukan perjalanan ini, Salopek mengambil serangkaian risiko tersendiri. “Gagasannya adalah melakukan perjalanan sepanjang siang seperti bangsa nomaden saat mereka meninggalkan Afrika, 50.000 sampai 70.000 tahun silam. Para ilmuwan menemukan bahwa itu sekitar 16 kilometer sehari,” ujarnya pada Januari, tak lama sebelum ia memulai perjalanan dari situs di timur laut wilayah Afar Etiopia. Di sini, beberapa fosil manusia modern dalam bentuk bagian-bagian tubuh ditemukan untuk pertama kalinya. Dengan kecepatan ini, ia berencana melewati tiga benua dan kurang lebih 30 perbatasan internasional, serta puluhan bahasa dan kelompok etnis. Juga rangkaian pegunungan dan sungai, gurun dan dataran tinggi, kota yang hampir mati, serta metropolis baru yang hiruk-pikuk.

“Falsafah di balik perjalanan ini adalah untuk membuat pembaca tidak terlalu fokus pada pemikiran bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya,” katanya. “Dunia dapat mem­bunuh Anda dalam sekejap, entah Anda tinggal di rumah atau meninggalkan rumah.” Sebaliknya, ia berharap, “agar pembaca berpikir tentang cakrawala yang lebih luas, kemungkinan yang lebih luas dalam kehidupan, jalan yang ditempuh dan tidak ditempuh, dan menjadi nyaman dengan ketidakpastian.”

Pada dasarnya Salopek ingin mengingatkan kita bahwa pada inti diri yang terdalam, kita semua adalah penempuh risiko, meski ada be­berapa orang yang lebih daripada yang lain. Dan  keinginan bersama untuk menjelajahi planet inilah yang telah mengikat spesies kita dari awal.

Ini adalah gagasan luhur, meskipun hanya salah satu dari sekian banyak yang digerakkan oleh dopamin.