Kadang,
saya merasa hidup di negara ini seperti hidup di dunia ketiga. Dunia
antah berantah yang tidak didengar oleh alam semesta. Seringkali, saya
merasa bahwa kita, terlalu rendah hati dan rendah diri sehingga merasa
begitu kecil bila dibandingkan dengan negara lain. Sehingga ketika ada
satu kejadian kecil yang membuat nama negara ini disebut, tiba-tiba kita
bereaksi dengan kebanggan dan nasionalisme yang begitu berlebihan.
So What??
Saya
masih ingat waktu dulu masih aktif di sebuah forum di internet, ada
member yang membuat topic yang menceritakan betapa harus bangganya kita
karena nama negara ini disebut dalam sebuah film hollywood. Dalam sebuah
adegan, di satu baris dialog. Di topik itu, ada banyak komentar yang
bernada serupa, bahwa mereka bangga dan mengajak member yang lain untuk
ikut berbangga dengan ‘prestasi’ tersebut. Saya sejenak tertegun-tegun
membacanya. Dalam pikiran saya terbayang, begitu terpencilnyakah negara
saya ini, tak terdengar oleh orang-orang di negara sana, sehingga ketika
nama negara ini disebut, tiba-tiba kita harus bangga dan
menceritakannya di forum2? Disebut di dalam film Hollywood pula. Hanya
satu line pula.
Ketika seorang kepala negara adikuasa diketahui pernah sekolah di negara ini, kita tiba-tiba heboh luar biasa. Kita bertingkah seolah negara ini terlalu mustahil untuk pernah diinjak oleh seorang kepala dari negara lain. Tiba-tiba saja semua surat kabar dan televisi meliput sekolah yang bersangkutan, lalu kita mulai membuat ekspektasi tidak masuk akal dan tidak berkorelasi seperti hubungan bilateral yang akan lebih baik, nama negara ini yang akan terangkat di mata dunia, hanya karena dia pernah tinggal dan bersekolah di negara ini. Seolah kita menguik kepada dunia; ‘lihatlah negara kecil kami, pernah ditinggali oleh seorang presiden sebuah negara adikuasa.” Mungkin warga sana hanya akan bilang, “Yeah..? So what?”
Ketika sang kepala negara ini datang berkunjung ke negara ini, kita senang bukan main. Dan saat dalam pidatonya dia mengatakan “bakso” dan “sate”, semua orang bahagia tiada tara, bahkan hal ini menjadi headline di berbagai surat kabar. Demikian tidak berartinya-kah kita?
Ketika seorang kepala negara adikuasa diketahui pernah sekolah di negara ini, kita tiba-tiba heboh luar biasa. Kita bertingkah seolah negara ini terlalu mustahil untuk pernah diinjak oleh seorang kepala dari negara lain. Tiba-tiba saja semua surat kabar dan televisi meliput sekolah yang bersangkutan, lalu kita mulai membuat ekspektasi tidak masuk akal dan tidak berkorelasi seperti hubungan bilateral yang akan lebih baik, nama negara ini yang akan terangkat di mata dunia, hanya karena dia pernah tinggal dan bersekolah di negara ini. Seolah kita menguik kepada dunia; ‘lihatlah negara kecil kami, pernah ditinggali oleh seorang presiden sebuah negara adikuasa.” Mungkin warga sana hanya akan bilang, “Yeah..? So what?”
Ketika sang kepala negara ini datang berkunjung ke negara ini, kita senang bukan main. Dan saat dalam pidatonya dia mengatakan “bakso” dan “sate”, semua orang bahagia tiada tara, bahkan hal ini menjadi headline di berbagai surat kabar. Demikian tidak berartinya-kah kita?
Jangan Alay
Mungkin
kita terbiasa untuk menjadi lebay. Karena seharian kita disuguhi oleh
hal-hal yang dibesar-besarkan dan fakta yang didramatisir. Mungkin
itulah yang membuat kita merasa tidak berarti karena kita sadar bahwa
apa yang disajikan di depan kita adalah hal-hal yang semu tetapi kita
dipaksa untuk menikmatinya.
Kita merasa kerdil karena ‘diyakinkan’ bahwa kita bangsa yang gagal. Gagal membayar hutang, gagal memilih pemimpin, gagal menciptakan produk, gagal berinovasi, dan kegagalan2 lain yang justru diwacanakan oleh media kita. Padahal dibandingkan negara lain, hutang kita tidak ada apa-apanya. Hutang negara lain jauh lebih besar dari kita, tapi mereka bisa memanage-nya dengan baik sehingga menjadi sumber daya, tetapi kita terus menerus menyebut hutang itu sebagai aib, menjatuhkan mental dan semangat anak negeri.
Media lebih suka menceritakan pemimpin yang khianat, atau pemimpin baik yang palsu, padahal kita juga punya pemimpin-pemimpin jujur yang bisa diandalkan. Kita diyakinkan bahwa produk dalam negeri tidak berkualitas. Padahal kita punya engineer-engineer yang hebat.
Kita malah disuguhi keberhasilan mereka yang sesungguhnya tidak ingin kita dengar. Selebritis yang pamer kekayaan, politikus yang haus pencitraan, sinetron yang semakin menggila dengan logika cerita yang di luar nalar. Bahkan dalam sebuah acara music di televisi, saya pernah mendengar seorang presenter mengatakan, “..keberhasilan seseorang bisa ditunjukkan dengan bisa membeli barang-barang mewah dan liburan ke luar negeri..” (whaaat?? )
Kebanggan kita dikikis habis pelan-pelan tanpa kita sadari. Maka ketika ada sesuatu yang muncul yang ‘membantu’ rasa kebanggan kita, tiba-tiba kita menjadi heboh untuk mengelu-elukannya.
Apalagi baru-baru sekarang setelah di bikinnya fans page orang ternama indonesia, no wahid pula. Entah apa tujuannya bikin fans page begitu, untuk citra moral atau ikutan mau curhat ke masyarakat kalo dia juga bisa update status dan ikutan ngalay.
Buktinya, baru aja masyarakat miskin di timpa musibah karena naiknya BBM yang pas waktunya (awal tahun ajaran baru, mau masuk ramadhan, sebentar lagi lebaran) yang memicu naeknya sembako yang semakin melangit.
Ada pula beberapa wilayah indonesia baru saja tertimpa musibah karena gempa, banyak korban pula disana, rumah pada tumbang dan roboh. Eh malah si dia di fans pagenya update status ngalay, sok bikin puisi segala biar kelihatan romatis gitu?? plis deh elu tu orang no wahid di indonesia bro, jangan cengeng deh ah!! Anehnya banyak juga masyarakat bisa menerima hal itu dan di puji segala kalo si dia tu romantis juga (bukan romantis, ngalay kaleee),, hadeuh...
Kita merasa kerdil karena ‘diyakinkan’ bahwa kita bangsa yang gagal. Gagal membayar hutang, gagal memilih pemimpin, gagal menciptakan produk, gagal berinovasi, dan kegagalan2 lain yang justru diwacanakan oleh media kita. Padahal dibandingkan negara lain, hutang kita tidak ada apa-apanya. Hutang negara lain jauh lebih besar dari kita, tapi mereka bisa memanage-nya dengan baik sehingga menjadi sumber daya, tetapi kita terus menerus menyebut hutang itu sebagai aib, menjatuhkan mental dan semangat anak negeri.
Media lebih suka menceritakan pemimpin yang khianat, atau pemimpin baik yang palsu, padahal kita juga punya pemimpin-pemimpin jujur yang bisa diandalkan. Kita diyakinkan bahwa produk dalam negeri tidak berkualitas. Padahal kita punya engineer-engineer yang hebat.
Kita malah disuguhi keberhasilan mereka yang sesungguhnya tidak ingin kita dengar. Selebritis yang pamer kekayaan, politikus yang haus pencitraan, sinetron yang semakin menggila dengan logika cerita yang di luar nalar. Bahkan dalam sebuah acara music di televisi, saya pernah mendengar seorang presenter mengatakan, “..keberhasilan seseorang bisa ditunjukkan dengan bisa membeli barang-barang mewah dan liburan ke luar negeri..” (whaaat?? )
Kebanggan kita dikikis habis pelan-pelan tanpa kita sadari. Maka ketika ada sesuatu yang muncul yang ‘membantu’ rasa kebanggan kita, tiba-tiba kita menjadi heboh untuk mengelu-elukannya.
Apalagi baru-baru sekarang setelah di bikinnya fans page orang ternama indonesia, no wahid pula. Entah apa tujuannya bikin fans page begitu, untuk citra moral atau ikutan mau curhat ke masyarakat kalo dia juga bisa update status dan ikutan ngalay.
Buktinya, baru aja masyarakat miskin di timpa musibah karena naiknya BBM yang pas waktunya (awal tahun ajaran baru, mau masuk ramadhan, sebentar lagi lebaran) yang memicu naeknya sembako yang semakin melangit.
Ada pula beberapa wilayah indonesia baru saja tertimpa musibah karena gempa, banyak korban pula disana, rumah pada tumbang dan roboh. Eh malah si dia di fans pagenya update status ngalay, sok bikin puisi segala biar kelihatan romatis gitu?? plis deh elu tu orang no wahid di indonesia bro, jangan cengeng deh ah!! Anehnya banyak juga masyarakat bisa menerima hal itu dan di puji segala kalo si dia tu romantis juga (bukan romantis, ngalay kaleee),, hadeuh...
Butuh Pengakuan
Yang
masih hangat, adalah ketika satu ajang pencarian bakat di salah satu
televisi swasta menampilkan audisi sosok gadis es-em-a yang meng-cover
sebuah lagu milik musisi kenamaan tanah air dengan begitu ciamik. Maksud
saya tanah air orang lain. Ya, sang gadis memiliki talenta. Bahkan hal
ini diakui sang musisi tanah air orang lain tersebut dengan mengunggah
video audisi sang gadis di website resminya. Sebuah pengakuan seorang
musisi kelas dunia akan bakat hebat seorang gadis putih abu-abu.
Banggakah kita? Ya, saya rasa, kita harus bangga. Tapi, saya jadi mengerenyitkan dahi ketika membaca komentar-komentar di situs tersebut yang hampir semuanya dari orang kita sendiri. Komentar tentang dukungan yang berlebihan, ekspektasi yang terlalu tinggi, kebanggaan karena video itu masuk ke website sang musisi, lalu tiba2 mulai membandingkannya dengan artis lain, menyebutnya lebih baik bahkan yang terbaik dibanding kontestan dan artis lain, bahkan dengan sang musisi sendiri. Maafkan bahasa saya, tetapi kebanyakan komentar itu norak, tidak perlu, dan tidak pada tempatnya. Seolah kita kembali berteriak pada dunia, “lihatlah negara kecil kami, lihat gadis kecil ini, yang akan mengangkat nama negara kami, bersiap-siaplah kalian semua, karena kami akan menguasai dunia. Gyahahahahaha..!!”
Mungkin mereka tidak sadar bahwa mereka telah memberikan tanggung jawab yang demikian besar pada sang gadis, yang bisa jadi malah membuatnya tertekan dan gagal memberikan yang terbaik. Mungkin orang lain yang membaca ratusan komentar2 tersebut akan berkata, “kasihan orang-orang di negara itu.. mereka begitu haus akan pengakuan..”
Mungkinkah kita memang haus akan pengakuan? Mungkinkah kita telah jatuh ke dalam fase yang terendah dalam kepercayaan diri sehingga kita selalu mencari-cari sesuatu yang bisa kita banggakan, dan ketika sesuatu itu muncul kita sibuk meneriakkannya? Apakah kita begitu merasa kecil dan tidak berguna, minder pada dunia?
Banggakah kita? Ya, saya rasa, kita harus bangga. Tapi, saya jadi mengerenyitkan dahi ketika membaca komentar-komentar di situs tersebut yang hampir semuanya dari orang kita sendiri. Komentar tentang dukungan yang berlebihan, ekspektasi yang terlalu tinggi, kebanggaan karena video itu masuk ke website sang musisi, lalu tiba2 mulai membandingkannya dengan artis lain, menyebutnya lebih baik bahkan yang terbaik dibanding kontestan dan artis lain, bahkan dengan sang musisi sendiri. Maafkan bahasa saya, tetapi kebanyakan komentar itu norak, tidak perlu, dan tidak pada tempatnya. Seolah kita kembali berteriak pada dunia, “lihatlah negara kecil kami, lihat gadis kecil ini, yang akan mengangkat nama negara kami, bersiap-siaplah kalian semua, karena kami akan menguasai dunia. Gyahahahahaha..!!”
Mungkin mereka tidak sadar bahwa mereka telah memberikan tanggung jawab yang demikian besar pada sang gadis, yang bisa jadi malah membuatnya tertekan dan gagal memberikan yang terbaik. Mungkin orang lain yang membaca ratusan komentar2 tersebut akan berkata, “kasihan orang-orang di negara itu.. mereka begitu haus akan pengakuan..”
Mungkinkah kita memang haus akan pengakuan? Mungkinkah kita telah jatuh ke dalam fase yang terendah dalam kepercayaan diri sehingga kita selalu mencari-cari sesuatu yang bisa kita banggakan, dan ketika sesuatu itu muncul kita sibuk meneriakkannya? Apakah kita begitu merasa kecil dan tidak berguna, minder pada dunia?
Jadilah Dewasa
Padahal
negara ini adalah negara besar, dengan jumlah penduduk yang besar, dan
potensi yang besar pula. Negara lain mengantri untuk menjejakkan kaki ke
negara ini, memancangkan investasi mereka dan mengeruk keuntungan dari
negara kita. Negara ini tidak perlu ‘berusaha terlalu keras’ untuk
tampil di mata dunia, atau terlalu merasa rendah untuk disebut namanya.
Kita punya sejarah yang hebat, dan orang-orang besar yang melegenda.
Kita hanya perlu memiliki kebanggan murni dalam dada. Murni akan bangsa
ini. Kebanggan yang tidak perlu diwakili oleh sebuah simbol ataupun
sesosok figur.
Kebanggan yang membuat kita merasa bahwa kita memang pantas untuk melenggang dan disejajarkan dengan bangsa-bangsa di dunia. Kebanggan yang akan membuat kita terus berkarya, mencipta, menafikan kegagalan dan kegalauan yang disuguhkan di depan kita, yang pada akhirnya akan membuat bangsa ini benar-benar melambung seperti seharusnya. Ya, seperti seharusnya..
Orang yang hebat tidak butuh menyibukkan dirinya untuk menceritakan bahwa dia hebat, tidak perlu mengagungkan aksinya yang hebat. Orang hebat tidak banyak cing-cong. Orang hebat terbiasa untuk melakukan hal-hal yang hebat, mereka tidak membangga2kan hal itu, karena hal hebat itu adalah biasa bagi mereka. Orang hebat selalu fokus untuk menjadikan apa-apa yang hebat dalam dirinya, menjadi semakin hebat, menjadi luar biasa. Seperti kata Buzz Lightyear, “menuju tak terbatas! dan melampauinya..!”
Kebanggan yang membuat kita merasa bahwa kita memang pantas untuk melenggang dan disejajarkan dengan bangsa-bangsa di dunia. Kebanggan yang akan membuat kita terus berkarya, mencipta, menafikan kegagalan dan kegalauan yang disuguhkan di depan kita, yang pada akhirnya akan membuat bangsa ini benar-benar melambung seperti seharusnya. Ya, seperti seharusnya..
Orang yang hebat tidak butuh menyibukkan dirinya untuk menceritakan bahwa dia hebat, tidak perlu mengagungkan aksinya yang hebat. Orang hebat tidak banyak cing-cong. Orang hebat terbiasa untuk melakukan hal-hal yang hebat, mereka tidak membangga2kan hal itu, karena hal hebat itu adalah biasa bagi mereka. Orang hebat selalu fokus untuk menjadikan apa-apa yang hebat dalam dirinya, menjadi semakin hebat, menjadi luar biasa. Seperti kata Buzz Lightyear, “menuju tak terbatas! dan melampauinya..!”
Well,
ketika sebuah film diputar, dan kita menonton bersama di bioskop, akan
menjadi siapakah kita? Sang tokoh utama yang hanya akan tersenyum ketika
melihat aksinya di layar lebar, yang mungkin hanya akan berkata “ah,
sudahlah… terima kasih” ketika ada yang memuji aktingnya, atau kita akan
menjadi figuran yang ketika satu adegan kecil diputar, dia akan berdiri
dan mengagetkan seluruh penonton di bioskop dengan berteriak lantang,
“itu saya..! itu saya..!”






0 komentar:
Posting Komentar